ProKontra, Surabaya — Acara peluncuran buku antologi puisi dan catatan alumni Stikosa-AWS lintas angkatan berjudul “Kawah Pena Hebat” berlangsung meriah di Delima Restaurant Quds Royal Hotel Surabaya, Rabu (15/4). Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka Festival Pecel Pincuk yang digelar di hotel kawasan Ampel tersebut hingga 30 April 2026.
Buku “Kawah Pena Hebat” memuat puisi dan esai karya para alumni Akademi Wartawan Surabaya (kini Stikosa AWS) dari berbagai angkatan, yang sebagian besar telah berusia di atas 60 tahun. Tulisan-tulisan dalam buku ini mengangkat kenangan masa kuliah di kampus lama AWS di Jalan Kapasari Surabaya, yang saat ini digunakan oleh SMA Atma Widya dan masih berada di bawah Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT), yayasan yang juga menaungi Stikosa AWS.
Sejumlah nama tokoh media nasional turut menjadi penulis dalam buku tersebut. Di antaranya Dr. Dhimam Abror selaku Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Sapto Anggoro mantan Ketua Dewan Pers, Satria Narada pemilik Bali TV dan Bali Post, Bob Priyambodo RH Direktur Lembaga Pers Dr. Soetomo sekaligus penguji nasional Uji Kompetensi Wartawan (UKW), serta Imawan Mashuri Ketua YPWJT dan mantan Dirut JTV, bersama sejumlah tokoh lainnya. Secara keseluruhan, buku setebal 245 halaman ini menghadirkan 14 penulis puisi dan 25 penulis esai.
Penerbitan buku ini digagas oleh Kris Mariuono, alumni tahun 1983 sekaligus mantan reporter RRI Surabaya, yang dikenal aktif menerbitkan buku serupa di berbagai komunitas.
“Karya yang dibukukan bukan hanya menjadi sesuatu yang monumental, tetapi juga akan dikenang oleh generasi berikutnya,” ujar Zainal Arifin Emka, alumni tahun 1970, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Surabaya Post yang kini menjadi dosen di Stikosa AWS.
Sementara itu, Andarini, mantan dosen Stikosa AWS yang turut hadir, menyampaikan bahwa mahasiswa AWS pada masa ia mengajar memiliki semangat tinggi. Meskipun bekerja sepanjang hari dan melanjutkan kuliah pada malam hari, mereka tetap fokus mengikuti perkuliahan. “Karena itu banyak yang kemudian menjadi tokoh sukses,” ungkap Andarini, yang kini berusia 84 tahun dan tetap terlihat sehat.
Acara peluncuran buku ini juga menjadi ajang reuni lintas angkatan, dengan suasana penuh kegembiraan saat para alumni kembali bertemu setelah puluhan tahun berpisah. Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan Arul Lamandau, Meimura, Grup Keroncong Guyub Rukun, serta dalang cilik Jalu Wiwoho.













