MAGETAN, ProKontra – Rencana pengembangan Kampus V Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di wilayah Kota Magetan mendapat dukungan dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan. Namun, dukungan tersebut disertai sejumlah catatan agar keberadaan kampus benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjawab kebutuhan masyarakat.
UNESA berencana mengembangkan Kampus V di atas lahan eks bengkok Kelurahan Kebonagung seluas sekitar 16,18 hektare yang terdiri atas 13 bidang sertifikat. Kawasan itu dirancang mengusung filosofi Mahkota sebagai simbol identitas “Kampus Rumah Para Juara”, lengkap dengan bangunan akademik, ruang terbuka, masjid, hingga fasilitas pendukung lainnya.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan Suyono Wiling mengatakan, pada prinsipnya fraksinya mendukung upaya pengembangan pendidikan tinggi di Kabupaten Magetan. Meski demikian, ia meminta sejumlah aspek dikaji lebih mendalam.
“Pada prinsipnya kami sepakat dan setuju terhadap pengembangan pendidikan UNESA di Kabupaten Magetan. Tetapi ada beberapa hal yang harus menjadi kajian,” ujarnya, Kamis (6/8/2026) saat ditemui.
Menurut dia, evaluasi terlebih dahulu perlu dilakukan terhadap pengembangan Kampus V yang sudah berdiri di Maospati. Sejumlah rencana yang pernah disampaikan sebelumnya, seperti pembangunan lapangan basket bertaraf internasional maupun dampak terhadap pelaku UMKM, dinilai perlu dilihat realisasinya.
Selain itu, Suyono berharap program studi yang dibuka di kampus baru nantinya disesuaikan dengan karakteristik Kabupaten Magetan. Ia mengusulkan jurusan pertanian, peternakan, serta pengembangan UMKM dan pariwisata menjadi prioritas.
“Magetan memiliki basis pertanian, peternakan, dan UMKM yang menopang sektor wisata. Kami berharap jurusan-jurusan itu dibuka sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia menilai sektor pertanian masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Magetan. Berdasarkan data pemerintah daerah, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Magetan pada 2025 mencapai 5,49 persen, dengan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama.
Namun demikian, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan petani. Sebab, di lapangan masih banyak petani yang mengalami gagal panen.
“Pertumbuhan ekonomi harus bersifat inklusif. Jangan hanya angka yang naik, tetapi masyarakat, khususnya petani, juga harus merasakan peningkatan kesejahteraan,” tegasnya.
Fraksi PDIP juga menilai pengembangan kampus tidak harus membangun seluruh fasilitas olahraga baru. Menurut Suyono, rencana pembangunan stadion maupun gedung olahraga dapat disinergikan dengan fasilitas milik Pemerintah Kabupaten Magetan yang sudah tersedia.
“Kalau sudah ada stadion dan GOR milik pemerintah daerah, mengapa tidak dimanfaatkan bersama. Ini bisa menjadi bentuk kolaborasi antara UNESA dan Pemkab Magetan,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan terkait kebutuhan lahan demonstrasi (demlot) pertanian. Ia mengusulkan agar UNESA bekerja sama dengan pemerintah daerah memanfaatkan lahan di berbagai wilayah Magetan, sehingga pengembangan teknologi pertanian tidak terpusat di satu lokasi.
Menurutnya, keberadaan kampus pertanian justru harus mampu mengubah pola pertanian konvensional menjadi pertanian modern berbasis teknologi.
“Anak-anak muda sekarang sudah kurang tertarik bertani. Dengan pendidikan dan teknologi, pertanian harus diubah menjadi lebih modern agar kembali diminati generasi muda. Ini menjadi salah satu langkah menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.













