SUMATERA UTARA, ProKontra – Peristiwa bencana alam besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada November 2025 sempat menyita perhatian warga Indonesia. Peristiwa bencana alam ini menimbulkan dampak luas, jumlah korban jiwa yang tinggi dan kerugian yang besar. Dampak bencana ini membuka pandangan bahwa sistem penanagan bencana harus dilakukan dengan cepat, sistematis, dan berkelanjutan. Indonesia menjadi negara dengan potensi bencana alam yang tinggi akibat letak geografis yang dapat memicu aktivitas gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan longsor. Risiko menjadi semakin kompleks karena bencana selalu berdampak pada kehidupan sosial dan kesejahteraan masyarakat dalam skala yang luas.
Perubahan situasi yang terjadi dapat menimbulkan trauma pada masyarakat Sumatra Utara. Trauma ini perlu diatasi dengan pemulihan berbasis nilai budaya dan aspek psikologi untuk mengembalikan semangat korban dalam menghadapi kehidupan pascabencana. Pemulihan trauma pascabencana yang harus diatasi oleh OPD menghadapi permasalahan yang luas, mencakup teknis, kesiapan menghadapi perubahan, kemampuan beradaptasi, dan motivasi berprestasi sebagai aspek yang diterapkan dalam pelayanan kepada masyarakat.
Penanganan pascabencana di Sumatera Utara membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan nilai budaya dan kearifan lokal. Kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang sudah mengakar. Pendekatan yang dilakukan dengan berlandaskan nilai budaya dapat menjadi model penanganan pascabencana yang tepat. Untuk mengembangkan dan mengaplikasikan model ini, tim pengabdian masyarakat ITB mengadakan penanganan pascabencana yang dilakukan secara kolaboratif di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tim pengabdian masyarakat yang terdiri atas Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., R.R. Sri Wachyuni, M.Psi., Dr. Tri Sulistyaningtyas, M. Hum., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C. , S.T., M.B.A. bekerja sama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan penanganan pascabencana berbasis kearifan lokal.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 5—6 Agustus 2026. Kegiatan ini mengaplikasikan pendekatan budaya lokal sebagai aspek penting yang memperkuat penanganan pascabencana. Budaya memiliki fungsi untuk memperkuat identitas masyarakat, menjadi sumber pengetahuan tentang bencana alam, dan memperkuat keterikatan sosial dalam menghadapi situasi pascabencana. Nilai yang hidup dalam tradisi masyarakat Sumatra Utara membentuk cara masyarakat merespons dan meresiliensi bencana yang sudah terjadi. Terlebih lagi, Sumatera Utara merupakan wilayah yang menjunjung tinggi persatuan dan diwujudkan dalam nilai-nilai budayanya.
Budaya Sumatera Utara yang mencerminkan kekuatan nilai kebersamaan adalah tradisi Marsialapari di Tapanuli Selatan. Budaya Marsialapari meruapakan budaya yang menekankan semangat perjuangan dan mengutamakan nilai kebersamaan dengan saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Di Batak Toba, masyarakat mengenal tradisi Marsiurupan yang berakar pada nilai budaya Dalian Na Tobu. Kedua tradisi budaya ini merupakan kearifan lokal yang mengangkat pentingnya persatuan, gotong royong, dan kerja sama.
Dalam penanganan pascabencana, pihak yang bertugas harus memiliki kemampuan untuk menentukan kata yang akan digunakan. Setiap langkah yang harus dilakukan selama fase pemulihan harus dapat dipahami oleh penyintas agar penyintas lebih mudah menerapkannya. Materi ini disampaikan oleh Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., dan Dr. Tri Sulistyaningtyas, M. Hum. OPD diajarkan untuk memilih dan menggunakan kata yang tepat dalam memberikan pengarahan pemulihan pascabencana. Penggunaan bahasa yang terlalu tinggi dan terlalu rumit akan menyulitkan penyintas untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan selama fase pemulihan. Sudut pandang budaya yang diterapkan juga memudahkan para korban untuk melalui masa sulit dan kembali menjalani rutinitas sehari-hari.
Dalam penanganan bencana, mengaplikasikan nilai kebersamaan dapat menjadi metode yang tepat dalam mendukung proses tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana. Metode ini diberikan kepada Organisasi Perangkat Daerah agar dapat diaplikasikan secara mandiri dan berkelanjutan. Langkah yang dilakukan dalam penerapan metode ini diawali dengan studi lapangan dan observasi partisipatif. Hasil studi lapangan digunakan untuk memetakan permasalahan yang kemudian diaplikasikan dalam diskusi kelompok (FGD). Pendekatan juga mengaplikasikan psychological method melalui training, counseling, coaching, simulasi, dan gaming. Setelahnya, para peserta akan mengikuti workshop dan pendampingan praktis oleh para ahli.
Model penanganan pascabencana diarahkan untuk mengintervensi dan meningkatkan kompetensi Organisasi Perangkat Daerah melalui intervensi terpadu berbasis keilmuan psikologi dan budaya. Kegiatan ini berfokus pada penguatan kesiapan menghadapi perubahan, peningkatan motivasi berprestasi, dan peningkatan pelayanan publik yang berkualitas dalam menghadapi situasi bencana dan pascabencana. Melalui pendekatan yang menggabungkan nilai budaya dan sudut pandang psikologi, model ini diarahkan untuk membangun kapasitas OPD yang adaptif, tanggap, dan tangguh dengan menerapkan nilai budaya yang telah lama hidup di masyarakat Sumatera Utara.













