banner 728x250

ITB dan OPD Bireuen Kembangkan Model Pemulihan Pascabencana Berbasis Psikososial, Kesehatan, dan AI

 

 

ACEH, ProKontra – masyarakat Bireuen, Aceh, mengalami kesulitan setelah bencana melanda pada 2025. Setelah banjir surut, masyarakat membutuhkan waktu untuk pulih dari kebencanaan. Selama masa pengungsian, masyarakat terpaksa berhenti dari kegiatan yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Penyintas bencana harus menghadapi goncangan mental dan kesehatan fisik. Untuk menghadapi kondisi pascabencana, masyarakat membutuhkan model pemulihan yang tepat.

 

Pelatihan pembentukan model penanganan pascabencana dilaksanakan pada 3—4 Agustus 2026 dan diketuai RR Sri Wachyuni, M.Psi. Kegiatan ini merupakan pendampingan kepada pengurus Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di Bireuen, Aceh. Tim pengabdian masyarakat terdiri atas R. R. Sri Wachyuni, S.Psi., M.Psi., Dr. Tri Sulistyaningtyas, M. Hum., Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, MSi., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C. , S.T., M.B.A. bekerja sama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan penangana pascabencana berbasis psikososial dan kesehatan berbasis digital dan AI.

 

Sebelum kegiatan dilaksanakan, tim pengabdian masyarakat ITB melakukan pemetaan awal kepada 20 responden. Hasil pemetaan berdasarkan kuesioner menunjukkan koordinasi antarlembaga dan kesiapan mental petugas masih menjadi tantangan utama. Penanganan dan pemulihan pascabencana menghadapi beberapa tantangan, di antaranya keterbatasan logistik dan sumber daya manusia, kurangnya koordinasi, kondisi di lapangan tidak sesuai dengan perencanaan, akses yang sulit ke daerah bencana, anggaran, dan tidak siap mental.

 

Penanganan pascabencana perlu model yang lebih sistematis dan berkelanjutan untuk diaplikasikan kepada Organisasi Perangkat Daerah. Organisasi Perangkat Daerah menjadi mintra dalam kegiatan ini sebab OPD memiliki tanggung jawab untuk mitigasi bencana, memastikan pelayanan dasar tetap dilakukan, memberikan bantuan langsung, berkoordinasi dengan perangkat desa lainnya, melakukan pemetaan, dan membuat tempat untuk pengungsian.

 

Pemetaan juga menunjukkan kesiapan mental dibutuhkan untuk melengkapi tahapan pemulihan pascabencana. Peserta diberikan materi mengenai psychological first aid (PFA) oleh RR Sri Wachyuni, M.Psi. Materi ini daapat diterapkan oleh first responder, pihak yang bertugas saat emergensi terjadi. Peserta diajak untuk memahami tujuan PFA untuk mengurangi pengalaman traumatis, menguatkan fungsi adaptif penyintas jangka pendek dan jangka panjang, serta akselerasi pemulihan penyintas. Peserta OPD diajak untuk menyusun langkah-langkah menangani dan memulihkan trauma dan kondisi mental penyintas. Langkah ini membantu penyintas merasa aman, didengar, dan mampu mengambil keputusan sederhana setelah penyintas selesai mengalami situasi kritis.

 

OPD juga diperkenalkan dengan materi penanganan pascabencana dari sudut pandang bahasa dan budaya. Penanganan dan refleksi psikologis dalam fase pemulihan membutuhkan pengarahan dengan bahasa yang tepat. Materi ini disampaikan oleh Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., dan Dr. Tri Sulistyaningtyas, M. Hum. Pada materi ini, OPD diberikan wawasan untuk memahami pentingnya penggunaan kata/diksi yang tepat agar penanganan dan pemulihan pascabencana dapat dipahami dan diterima oleh penyintas. Penggunaan bahasa yang terlalu tinggi, terlalu teoretis, dan terlalu rumit akan menyulitkan penyintas untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan selama fase pemulihan.

 

Selain itu, salah satu pendekatan pemulihan kesehatan pasca bencana adalah pemanfaatan digitalisasi. Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, MSi. menyampaikan hal-hal yang dapat dimanfaatkan salah satunya adalah AI (Artificial Intelegent) dan digitalisasi untuk swamedikasi, yaitu pencegahan dan pengobatan mandiri dengan informasi yang tepat dan akurat. Oleh karena itu, pembinaan dan pelatihan pemanfaatan pada program ini diberikan untuk mengarahkan pengurus OPD mengenai cara menggunakan digitalisasi serta batas-batas informasi yang bisa digunakan. AI dimanfaatkan sebagai media untuk edukasi dan penyedia informasi awal serta pendukung pengambilan keputusan masyarakat sebelum mendapatkan layanan kesehatan profesional.

 

Andi Muhammad Yuandana Putra C. , S.T., M.B.A. juga memperkenalkan peran kemajuan teknologi AI dan Sistem Komunikasi Digital yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan model penanganan Pasca Bencana yang bermanfaat, contohnya adalah dengan pengolahan informasi secara visual yang lebih interaktif dan mudah dipahami, sehingga masyarakat tidak selalu disuguhkan dengan informasi yang sifatnya kaku dan menekan kondisi psikis mereka.

 

Integrasi pengetahuan psikososial, kesehatan mental, dan komunikasi digital mendukung model penanganan pascabencana yang berkelanjutan. Melalui program ini, ITB berharap penanganan pascabencana yang mempertimbangkan aspek psikologi, nilai sosial, dan kesehatan dapat terintegrasi dan diterapkan untuk kesiapan penanganan penyintas.

 

Pada kegiatan ini, materi Psychological first aid menjadi kerangka untuk mendampingi penyintas pada fase penanganan pascabencana. Tim juga melengkapi langkah pemulihan melalui model layanan kesehatan untuk memastikan kebutuhan fisik dan psikologis penyintas dapat tertangani secara profesional. Selain itu, para pakar menekankan AI dan komunikasi digital yang berperan sebagai alat pendukung untuk memperluas akses terhadap informasi, edukasi eksehatan, dan komunikassi yang cepat. Penerapan sistem ini diharapkan dapat melengkapi keberadaan tenaga kesehatan dan pendampingan psikososial selama fase pemulihan pascabencana.

Penulis: Tim Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *