banner 728x250

Tujuh Makam, Tujuh Cerita Satu Akar

Bunda Nanik saat nyekar disalah satu pemimpin Magetan dan setelah nyekar langsunh berbaur dengan masyarakat, ini merupakan kasih sayang sang pemimpin kepada Masyarakatnya

ProKontra, Magetan – Perjalanan bermakna ini dimulai dari Makam Ki Mageti di Kelurahan Magetan — nama yang menjadi asal-usul Magetan berdiri. Langkah tak berhenti di situ. Rombongan berkelana menelusuri jejak masa lalu:

– Makam Eyang Yosonegoro Kelurahan Tambran
​
– Makam Nrang Kusumo Kelurahan Bulukerto
​
– Makam G.K.R. Maduretno Gunung Bancak
​
– Makam Kertonegoro Kelurahan Kepolorejo
​
– Makam Purwodiningrat Desa Pacalan
​
– Makam Ronggo Galih Desa Durenan

Bupati Magetan Nanik Sumantri yang akrab disapa Buda Nanik menjelaskan, tujuh titik bukan sekadar batu nisan di tanah. Tujuh titik adalah fondasi yang menopang Magetan hingga hari ini. Di sanalah tertanam jasa, perjuangan, dan doa para pendahulu yang membangun dari nol.

Kreweng adalah Pecahan Genting yang Menyatukan Hati

Di penghujung perjalanan, di Makam Ronggo Galih, tradisi hangat kembali hidup, tukar kreweng. Pecahan genting kuno yang sederhana itu dibagikan, lalu ditukarkan warga dengan makanan. Bukan soal nilainya ini simbol, kita datang dengan apa yang ada, lalu berbagi, saling mengisi, saling melengkapi.

“Kreweng mengajarkan kita, sekecil apa pun yang kita miliki, masih bisa dibagi. Kebersamaan itu mahal harganya,” terang Bunda Nanik.

Tradisi ini bukan peninggalan masa lalu yang terkubur. Ia hidup, diwariskan, dan tetap terjaga di hati warga Magetan.

Lanjut Bunda Nanik  ini lebih dari Sekadar Ziarah di setiap lokasi, Bupati Magetan bersama jajaran Forkopimda tak sekadar berdoa. Bantuan sembako diserahkan secara simbolis kepada warga sekitar. Sebuah pesan sederhana namun dalam menghormati leluhur juga berarti merawat sesama.

“Jadi memaknai 351 Tahun Bukan Hanya Melihat ke Belakang, Hari Jadi ke-351 Magetan mengajarkan kita sesuatu yang sederhana namun sering terlupa,”terang Bupati Nanik.

Artinya, kita tidak bisa melangkah ke masa depan dengan kokoh, jika kita lupa di mana kita berpijak.

Ziarah ke tujuh makam leluhur ini adalah pengingat bahwa kemajuan Magetan hari ini adalah kelanjutan dari perjuangan mereka yang mendahului. Merawat sejarah bukan berarti terjebak masa lalu. Justru sebaliknya dengan memahami asal-usul, kita tahu ke mana arah melangkah.

“Semoga napak tilas ini terus dijaga. Semoga tujuh jejak leluhur itu selalu diingat. Karena di tanah Magetan ini, masa lalu dan masa depan berjalan beriringan dalam doa, dalam tradisi, dan dalam persaudaraan,”pungkas Bupati Nanik.

Penulis: Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *