banner 728x250

Pemkab Madiun Luncurkan KRETA, Buka Akses Permodalan Petani Milenial

Buka Akses Permodalan Petani Milenial

ProKontra, Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun meluncurkan program KRETA (Kredit Tanpa Agunan) dengan dukungan penuh Bank Madiun untuk memperluas akses permodalan bagi petani milenial. Program yang menjadi bagian dari upaya mewujudkan Petani Peternak Sejahtera (PPS) tersebut diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 dan sarasehan bertema “Petani Milenial Siap Berinovasi dan Berkolaborasi Menuju Kabupaten Madiun Bersahaja” di Pendopo Muda Graha, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun ini diikuti 250 peserta yang terdiri atas petani milenial, penyuluh pertanian, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok wanita tani (KWT), serta pelaku usaha dan organisasi sektor pertanian. Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Madiun H. Hari Wuryanto, Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi, dan jajaran perangkat daerah terkait.

Bupati Madiun H. Hari Wuryanto mengatakan, KRETA dirancang untuk mengatasi keterbatasan modal petani milenial melalui pembiayaan tanpa agunan dengan subsidi bunga. Dalam peluncuran tersebut, sebanyak 80 permohonan pembiayaan telah terverifikasi, terdiri atas 66 permohonan melalui DKPP dan 14 permohonan melalui Dinas Pertanian dan Perikanan. Dana yang dikembalikan dapat dimanfaatkan kembali untuk membantu petani lainnya.

“Biasanya kendala petani milenial adalah modal. Karena itu, pemerintah daerah berupaya memberikan dukungan agar mereka memiliki semangat dan kemampuan lebih besar untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.

Selain akses permodalan, Bupati mendorong peningkatan produktivitas dan nilai tambah hasil pertanian. Kabupaten Madiun yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur perlu memperkuat inovasi, teknologi, dan kolaborasi untuk meningkatkan produktivitas padi yang saat ini rata-rata mencapai 6,8–7,2 ton per hektare, dengan target 9–10 ton per hektare.

Bupati juga meminta petani milenial mengembangkan usaha hingga tahap pengolahan dan pemasaran produk bernilai tambah. Promosi melalui media sosial perlu diperkuat, sementara kolaborasi antara peternak dan pelaku usaha kuliner didorong agar hasil peternakan lokal terserap pasar dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik.

Sementara itu, Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi dalam arahannya menegaskan bahwa petani milenial tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh pola pikir yang terbuka terhadap modernisasi dan digitalisasi. Ia mendorong pemanfaatan teknologi, seperti drone untuk penyemprotan, serta pengembangan lahan percontohan (demplot) pertanian organik guna menunjukkan penerapan benih berkualitas, pemupukan yang tepat, dan pengendalian hama secara efektif.

Sarasehan menghadirkan Mustafa, Ketua Paguyuban Padi Organik Barokah dari Semarang, serta narasumber di bidang pertanian modern yang berbagi pengalaman tentang pengembangan beras organik dan pemanfaatan drone.

Kepala DKPP Kabupaten Madiun Paryoto menambahkan bahwa pertanian organik berpeluang membuka pasar dengan nilai jual lebih tinggi. Namun, pengembangannya membutuhkan standar produksi, pendampingan penyuluh, dan penguatan kelembagaan agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Pertanian organik menjadi salah satu solusi bagi petani untuk meningkatkan pendapatan karena memiliki segmen pasar khusus dengan nilai jual lebih tinggi. Namun, pengembangannya harus memenuhi standar organik yang ditetapkan, mulai dari pengelolaan lahan, pengairan, penggunaan pupuk hingga sarana produksi. Karena itu, diperlukan pendampingan penyuluh dan penguatan kelembagaan, termasuk melalui BUMDes, agar perluasan pertanian organik di Kabupaten Madiun dapat berjalan berkelanjutan,” pungkas Paryoto.

Penulis: Arga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *