Ilustrasi peternak kecil mendangi kandang raksasa
ProKontra, Magetan – Kabar berdirinya kandang ayam raksasa milik pihak yang dikenal dengan inisial “SK” di wilayah Magetan kini menjadi pembicaraan hangat sekaligus mencekam di kalangan para peternak kecil. Bayangkan saja rencananya dibangun 3 kandang berteknologi impor buatan Jerman, masing-masing berkapasitas 30.000 ekor. Artinya, hanya tahap pertama saja sudah menampung sekitar 90.000 ekor ayam! Bahkan kabarnya kesepakatan dengan pemasok peralatan sudah mengarah ke populasi 200.000 ekor. Sebuah angka yang begitu mencengangkan, membuat ratusan peternak kecil hanya bisa menatap pasrah sambil menahan getir.
“Senang sekali rasanya sebagai peternak kecil… rumah sendiri kalah mewah dibanding kandangnya!” begitu keluh seorang peternak dengan nada getir, disambut tangis haru maya dari rekannya. Tak sulit membayangkan betapa hancur hatinya: kandang ayam pakai mesin canggih buatan Jerman, sementara peternak rakyat masih bertaruh nyawa dengan tenaga sendiri, modal seadanya. Belum lagi kabar yang bikin darah mendidih kandang seluas itu belum punya izin resmi, tapi sudah berdiri tegak seakan-akan tak tersentuh aturan!
Yang paling membuat bulu kuduk merinding bukan sekadar besarnya kandang itu. Melainkan niat di balik pembangunannya. Kabarnya, pemilik kandang ini adalah pemasok pakan ternak terbesar di daerah ini. Pernah terdengar ucapan yang menusuk hati para peternak kecil. “Daripada pakan dipiutangkan kepada peternak kecil yang sulit bayar, lebih baik saya pakai sendiri,”ucapnya.
Itulah jawabannya! Kandang raksasa ini dibangun bukan semata berbisnis telur. Tujuannya nyata: menutup keran pakan yang selama ini menjadi sumber hidup peternak rakyat, lalu mematikan mereka lewat pasokan telur raksasa yang bisa dijual semurah-murahnya!
Coba hitung jari: harga pokok produksi peternak kecil sudah kalah jauh dari awal. Pakan mahal, tenaga terbatas, harga telur ditekan. Lalu datang kandang raksasa berpuluh-puluh ribu ekor, pakai mesin otomatis tidak butuh banyak karyawan, tidak lelah, produksi melimpah. Bila telur-telur itu dibanjiri ke pasar dengan harga sesuka hati, peternak kecil pasti luluh lantak! Tidak akan ada yang sanggup bersaing. Semua pasti gulung tikar!
“Peternak gurem bakal mati pelan-pelan,” keluh satu suara. “Kita semua sudah kalah di harga dasar sejak awal. Kalau kandang raksasa itu beroperasi penuh, siapa yang sanggup bertahan?”
Para peternak kecil pun kini berharap hanya kepada satu pihak: Pemerintah Kabupaten Magetan. Karena hanya pemerintah yang punya kekuatan mengatur tata ruang, mengawasi perizinan, dan melindungi rakyat kecil dari penindasan modal besar. Selama ini peternak rakyat diam saja, sabar saja namun kesabaran itu kini diuji habis-habisan. Belum punya izin saja sudah begitu megahnya kandang. Kalau sampai izin itu keluar resmi, habislah sudah nasib peternak kecil Magetan!
Karena itulah suara bergema satu: BOIKOT! Jangan beli pakan darinya! Jangan biarkan mereka menghancurkan kita lewat dua ujung mata pedang menutup pakan di satu sisi, membanjiri telur di sisi lain! Selama peternak kecil masih bersatu, selama mereka tetap saling menguatkan, harapan belum mati. Namun kalau tetap diam sendiri-sendiri… sayangnya, nasib sudah tertulis kelam.
“Mari kita bersatu. Yang besar pasti kuat, asal kita bergandengan tangan. Jangan biarkan kita dimangsa satu per satu oleh kekuatan modal yang tak peduli nasib rakyat kecil.”
Dan satu hal lagi yang tak boleh dilupakan semua pihak: Kandang itu belum berijin! Bagaimana mungkin bangunan sebesar itu bisa berdiri tegak tanpa selembar izin sah? Mengapa dibiarkan? Siapa yang melindunginya? Selama pertanyaan itu belum terjawab, maka kewajiban pemerintah hanya satu: Jangan pernah keluarkan izin itu! Jangan biarkan pelanggaran dihargai dengan kemenangan. Tegakkan aturan, lindungi rakyat kecil, sebelum semuanya terlambat!













