ProKontra, Surabaya – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memperingati Hari Puisi Nasional dengan menyelenggarakan kuliah pakar sastra, parade pembacaan puisi, serta peluncuran buku puisi karya dosen pada Selasa (28/4) siang di Ruang Teater Lantai 2 Kampus C Unusa Surabaya, Jl. Trenggilis Utara 14 Surabaya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Unusa dalam memperkuat budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi sekaligus mendorong mahasiswa agar lebih dekat dengan dunia sastra dan pemikiran reflektif. Mengusung tema “Puisi sebagai Sarana Berpikir Kritis dan Reflektif”, acara tersebut diikuti oleh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dosen, serta pegiat sastra di Jawa Timur.
Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April untuk mengenang wafatnya penyair legendaris Chairil Anwar pada tahun 1949. Tahun ini merupakan peringatan ke-77 Hari Puisi Nasional.
Di Unusa, momentum tersebut ditandai dengan peluncuran buku kumpulan puisi berjudul Belajar Mencintai-Mu karya Dr. Suharmono Kasiyun, dosen FKIP Unusa. Buku ini menghadirkan refleksi tentang makna cinta dalam dimensi personal, sosial, dan spiritual.
Dekan FKIP Unusa, Dr. Nafiah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya kampus dalam menghadirkan ruang literasi yang hidup dan relevan bagi generasi muda. “Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, merenung, serta memahami kehidupan secara lebih mendalam. Puisi menjadi salah satu medium penting untuk menumbuhkan hal tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, peluncuran buku karya dosen juga menjadi bukti bahwa tradisi akademik di kampus tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus berkembang melalui karya nyata yang dapat dinikmati masyarakat luas.
“Mahasiswa perlu melihat bahwa dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga berkarya. Ini menjadi inspirasi agar budaya menulis, membaca, dan berkreativitas terus tumbuh di lingkungan kampus,” tambahnya.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh sastra dan media Jawa Timur, di antaranya Aming Aminoedin, Toto Sonata, Amang Mawardi, serta Riadi Ngasiran. Mereka turut menyampaikan pandangan mengenai pentingnya sastra dalam membangun karakter, kepekaan sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Selain diskusi dan peluncuran buku, acara juga dimeriahkan dengan parade pembacaan puisi oleh sastrawan dan mahasiswa FKIP Unusa. Penampilan tersebut mendapat antusiasme peserta dan menjadi wadah ekspresi kreatif bagi generasi muda.
Melalui momentum Hari Puisi Nasional, Unusa menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ekosistem akademik yang memadukan ilmu pengetahuan, seni, serta nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian dari pembangunan peradaban.













