MAGETAN, ProKontra – Rencana perluasan kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di kawasan perkotaan, tepatnya di Kelurahan Kebonagung, memicu pandangan tajam sekaligus jernih dari Koordinator Forum Rumah Kita, Rudi Setiawan, S.Pd. Bukan menolak kemajuan, justru sebaliknya, ia mendesak agar kemajuan itu berpihak pada seluruh masyarakat, bukan hanya menumpuk di satu titik yang sudah padat.
Kenapa Harus di Kota, Padahal Desa Jauh Tertinggal?
Rudi sepenuhnya mengakui, kehadiran perguruan tinggi membawa berkah. Ilmu pengetahuan tumbuh, wawasan terbuka, ekonomi berputar. Tapi pertanyaannya sederhana dan keras, kenapa perluasan ini harus lagi di pusat kota?
“Saya secara tegas tidak setuju jika perluasan Unesa ditempatkan di kawasan kota. Pemerataan pendidikan harus diutamakan. Masyarakat di desa juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses dan informasi pendidikan. Dampak pertumbuhan ekonomi maupun UMKM akan sama besarnya di mana pun kampus itu ditempatkan,” tegas Rudi.
Ia mengingatkan Pemkab Magetan agar kembali pada semangat pemerataan pembangunan yang berkeadilan, gagasan yang pernah diusung para pemimpin terdahulu. Jangan biarkan akses pendidikan, literasi, dan kemajuan hanya menumpuk di tengah kota, sementara desa-desa di ujung kecamatan terus tertinggal jauh. Pembangunan tidak boleh hanya menumpuk di satu titik, lalu meninggalkan yang lain dalam kegelapan.
Kampus di Barat Belum Selesai, Sudah Mau Cari Lahan Baru?
Pertanyaan yang lebih mendesak kemudian muncul, bagaimana dengan kampus yang sudah ada di Barat? Hingga kini, pembangunannya dinilai belum sepenuhnya rampung dan belum berfungsi secara maksimal. Fasilitas belum lengkap, pemanfaatan belum optimal.
“Jangan sampai sejarah terulang. Sudah berapa banyak proyek di Magetan yang dibuka dengan kemegahan pidato, lalu ditinggal begitu saja, mangkrak, terbengkalai, dan tidak memberi manfaat nyata? Kita tidak boleh menambah daftar itu lagi,” ingatkan Rudi dengan nada serius.
Apakah kita hendak mengulang kesalahan yang sama? Membangun setengah hati di tempat lama, lalu terburu mencari lahan baru tanpa kajian matang? Itu namanya bukan memperluas, itu namanya menghambur-hamburkan kesempatan dan aset rakyat.
Kaji Dulu janga terburu, demi masa depan yang tidak menyesal
Forum Rumah Kita pun meminta kepada Pemkab Magetan agar berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan melakukan kajian kelayakan secara matang, utuh, dan transparan sebelum menyetujui kerja sama maupun penyerahan aset daerah.
“Kajian awal harus jelas. Jangan sampai pembangunan ini dilakukan tanpa perhitungan matang hingga berisiko memunculkan masalah hukum di kemudian hari, terutama terkait aturan hibah aset daerah. Pembangunan harus benar-benar dibarengi dengan orientasi kesejahteraan dan kemanfaatan yang nyata bagi seluruh masyarakat Magetan,” pungkas Rudi.
Pesan untuk Pemkab Magetan :
Pemerataan itu bukan sekadar kata di pidato. Pemerataan berarti desa juga berhak merasakan hadirnya kampus, merasakan putaran ekonomi, merasakan terbukanya wawasan. Jika kampus baru dibangun di kawasan yang lebih merata, dampaknya akan menjangkau lebih luas, tidak hanya warga kota, tapi juga petani, pelajar desa, dan UMKM di daerah terpencil.
Jangan sampai kita membangun gedung megah di tengah kota, tapi membiarkan ketimpangan semakin dalam di pelosok desa. Jangan pula sampai lahan dihibahkan, nama besar ditandatangani, lalu beberapa tahun kemudian kampus itu sepi, fasilitas rusak, dan kembali menjadi proyek yang tinggal kenangan.
Belajarlah dari yang sudah-sudah. Lebih baik lambat tapi pasti, daripada cepat tapi berujung mangkrak dan merugikan rakyat.
Pilihannya kini ada di tangan Pemkab, terus menumpuk di kota seperti biasa, atau berani berbuat beda, menyebarkan manfaat hingga ke pelosok desa, agar kemajuan benar-benar milik semua warga Magetan.













