banner 728x250

Aturan Hanya Tulisan di Kertas, Saat Aturan Dilanggar, Di Mana Suara Pengawas?

Teguran Keras Aktivis, Jangan Biarkan Demi Keuntungan, Masa Depan Anak Bangsa Dikorbankan

 

ProKontra, Magetan — Pertanyaan besar kini menggelayut di langit Kabupaten Magetan: Untuk apa aturan dibuat, jika nyatanya terus-menerus dilanggar dengan berani seolah tak ada yang berani menegur? Aturan sudah tertulis jelas, peraturan menteri sudah ada, landasan hukum sudah tegak. Namun kenyataan di lapangan berjalan berlawanan arah, seolah hukum hanyalah hiasan di atas kertas yang bisa diinjak-injak sesuka hati penguasa.

Melihat kenyataan yang memprihatinkan ini, Yoyok, salah satu aktivis dari Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat (Geramtara), angkat bicara dengan nada yang tajam namun penuh keprihatinan. Baginya, masalahnya bukan karena tidak ada aturan, melainkan karena ketulusan dan niat mulia para pemimpin yang dipertaruhkan.

“Aturan sudah sangat jelas, Peraturan Menteri pun sudah ada hitam di atas putih. Kini tinggal bagaimana para penguasa menyikapinya,” tegas Yoyok. “Apakah hati dan kebijakan mereka masih berorientasi pada bisnis mencari keuntungan semata? Atau benar-benar tujuannya memajukan anak didik agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berilmu, dan bermartabat?”

Pertanyaan ini tak berhenti di situ. Sorotan tajam juga ditujukan kepada Pemerintah Daerah dan Bupati selaku pemegang kekuasaan tertinggi di daerah ini. Di mana ketegasan sikap untuk melindungi rakyat kecil?

“Bagaimana sikap Bupati? Apakah hal ini sudah dibiarkan berputar dalam lingkaran setan yang tak berujung? Seperti lingkaran kuntilanak yang menyesatkan, di mana keuntungan berputar di kalangan yang sama, sementara rakyat kecil terus menderita,” tambahnya dengan getir.

Di Mana Suara LSM dan Para Aktivis? : Yang paling menyedihkan, menurut Yoyok, adalah hilangnya suara pengawas. Lembaga Swadaya Masyarakat dan para aktivis seharusnya menjadi benteng, penjaga tegaknya kebenaran, dan suara lantang bagi mereka yang tak bersuara. Namun kini, keberanian itu seolah terkubur dalam-dalam.

“Di mana peran teman-teman LSM yang seharusnya bersikap sangat tegas dan keras menyuarakan ketidakadilan ini? Sayang sekali, semua keberanian itu kini terkubur rapi, senyap seperti di dalam pemakaman umum. Tak ada suara, tak ada teguran,” ujar Yoyok dengan nada kecewa yang mendalam.

Ia pun melontarkan pertanyaan yang menyentuh nurani seluruh pejuang kebenaran: “Apakah teman-teman aktivis kini tertidur dengan sangat nyenyak? Apakah kalian sudah dibuai, ditenangkan, hingga lupa akan tugas dan janji kalian kepada rakyat?”

Bangunlah, Ambil Kembali Peranmu! : Yoyok tak berhenti sekadar mengeluh. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali sadar dan bangkit.

“Bangunlah wahai para aktivis dari semua lembaga! Segera terjaga dari tidur panjang kalian! Kembalilah menjadi kontrol sosial yang kuat bagi para pelayan masyarakat. Ingatkan mereka agar tidak pernah melanggar sumpah jabatan yang telah mereka ucapkan di hadapan Tuhan dan rakyat,” serunya menggelegar.

Perjuangan belum selesai. Meski berat, meski sendirian, Yoyok menegaskan semangat tak akan padam.
“Kita harus terus berjuang. Meski banyak yang bungkam, kami tak akan diam. Demi rasa keadilan, demi kemakmuran warga Magetan, dan agar aturan kembali ditegakkan bukan untuk dilanggar.”

Aturan dibuat untuk ditaati, bukan untuk dimainkan. Dan penguasa ada untuk melayani, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Jika semua diam, maka keadilanlah yang akan mati perlahan-lahan.

Penulis: Lilik Abdi Kusuma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *