ProKontra, Magetan – Sebagai bentuk komitmen dalam melaksanakan instruksi pimpinan terkait pembinaan lanjutan bagi warga binaan, Rutan Kelas IIB Magetan terus mengembangkan program pelatihannya. Jika sebelumnya program ini hanya bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Magetan, kini Rutan Magetan melebarkan sayapnya dengan menggandeng Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) Ponorogo.
Kerja sama ini diinisiasi saat pihak Rutan memperpanjang Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Ketenagakerjaan Magetan, yang turut dihadiri langsung oleh Kepala UPT BLK Ponorogo. Dari sinergi baru tersebut, Rutan Magetan berhasil memperoleh program pelatihan tata boga yang dilaksanakan langsung di dalam Rutan.
Fasilitas Komplit Setara BLK
Pengampu Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian Rutan Magetan, Rochmad Nur Kholis, menjelaskan bahwa seluruh peserta pelatihan mendapatkan fasilitas penuh yang tidak dibeda-bedakan dengan pelatihan di luar Rutan.
“Kami mendapat fasilitas layaknya di UPT BLK Ponorogo, mulai dari bahan dasar, peralatan, hingga mentor yang kompeten. Semua diberikan secara adil dan sama rata,” ujar Rochmad.
Pelatihan tata boga ini berlangsung selama 16 hari, dengan intensitas 8 jam pelajaran per hari. Dalam program ini, para warga binaan diajarkan berbagai keterampilan pembuatan roti, mulai dari proses pencampuran, rounding (pembulatan adonan), hingga proses proofing (pengembangan adonan). Namun, Rochmad mengakui masih ada sedikit kekurangan dalam program ini, yaitu belum adanya materi terkait strategi pemasaran produk.
Kuota Terbatas Khusus Warga Magetan
Berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak BLK, mayoritas peserta yang berhak mengikuti pelatihan ini harus merupakan warga yang ber-KTP Magetan. Oleh karena itu, pihak Rutan melakukan penyaringan ketat terhadap warga binaan di dalam.

Pembinaan warga Rutan
Untuk setiap sesi pelatihan, Skema pelatihan ke depan pun akan dilakukan secara bergilir agar warga binaan lainnya mendapatkan kesempatan yang sama. Rochmad menambahkan bahwa jenis pelatihan kemandirian ini selalu berubah setiap tahunnya tergantung pada anggaran. Sebagai contoh, pada tahun lalu Rutan Magetan menggelar pelatihan barbershop (potong rambut), sedangkan tahun ini berfokus pada tata boga.
Harapan Pasca-Bebas: Mandiri dan Didukung Dinas Sosial
Program pembinaan ini diharapkan tidak hanya menjadi pengisi waktu luang, tetapi menjadi bekal nyata bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa hukumannya. Pihak Rutan berharap mereka tidak kehilangan kemerdekaannya secara sia-sia, melainkan pulang membawa keahlian baru untuk membuka usaha.
Lebih lanjut, Rochmad juga mengarahkan agar para narapidana yang telah bebas nantinya dapat berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat. Dinas Sosial sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk membantu memfasilitasi dan memberikan bantuan stimulan modal usaha bagi mantan warga binaan yang dinilai berkompeten dan siap berwirausaha di tengah masyarakat.













