banner 728x250

Merti Bumi dan Jamasan Pusoko, Tradisi Leluhur yang Terus Dilestarikan Warga Desa Terung

ProKontra, Desa Terung – Tradisi Merti Bumi dan Jamasan Pusoko kembali digelar masyarakat Desa Terung, Kecamatan Ponorogo, Kamis (18/6/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari warisan budaya desa tersebut berlangsung meriah dan diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda, hingga anak-anak.

Tradisi tahunan ini menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan terhadap alam dan para leluhur yang telah berjasa membangun Desa Terung. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menjaga nilai sejarah dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Terung, Suwarno, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian budaya sebagai bagian dari jati diri masyarakat. Menurutnya, budaya merupakan fondasi yang membentuk karakter dan keunikan sebuah daerah.

“Tradisi ini harus terus dijaga dan diwariskan. Budaya adalah identitas masyarakat Desa Terung yang menjadi kebanggaan bersama. Dengan melestarikannya, kita tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang,” ujarnya di hadapan warga.

Ia menambahkan, pemerintah desa berkomitmen mendukung berbagai kegiatan budaya yang ada karena dinilai mampu mempererat hubungan sosial dan memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda sangat penting agar tradisi yang telah diwariskan para leluhur tetap lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman.

Sementara itu, Sesepuh Desa Terung, Sudarmo atau yang akrab disapa Mbah Sarni, menjelaskan bahwa Merti Bumi dan Jamasan Pusoko memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri desa.

“Budaya memang bukan agama, tetapi tetap harus dihormati dan dilestarikan. Tradisi ini merupakan wujud penghargaan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun Desa Terung hingga menjadi seperti sekarang,” tuturnya.

Mbah Sarni menegaskan bahwa masyarakat perlu terus mengenang perjuangan para pendahulu agar sejarah desa tidak hilang ditelan zaman.

“Segala yang kita nikmati saat ini merupakan hasil kerja keras para leluhur. Karena itu, kisah perjuangan mereka harus terus diwariskan agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Merti Bumi yang diisi doa bersama untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keberkahan hasil bumi bagi seluruh warga desa. Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan prosesi Jamasan Pusoko sebagai puncak kegiatan. Dalam ritual tersebut, berbagai benda pusaka peninggalan leluhur seperti senjata tradisional, peralatan pertanian kuno, hingga benda-benda bersejarah lainnya dibersihkan dan dirawat secara khusus.

Prosesi dilakukan dengan penuh penghormatan dan diiringi doa bersama sebagai simbol penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.

Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak masyarakat mengaku bangga karena tradisi tersebut masih terus dilestarikan dan mendapat dukungan dari pemerintah desa maupun tokoh masyarakat setempat.

Mereka berharap Merti Bumi dan Jamasan Pusoko tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga mampu menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Desa Terung kepada masyarakat yang lebih luas.

Melalui kebersamaan seluruh elemen masyarakat, tradisi Merti Bumi dan Jamasan Pusoko terus terjaga sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. Bagi warga Desa Terung, pelestarian budaya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga identitas dan memperkuat fondasi menuju masa depan yang tetap berakar pada nilai-nilai leluhur.

Penulis: Red/JK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *