Kandang Raksasa Tanpa Ijin Berdiri di Atas Lahan Hijau Peternak Kecil Menjerit Jangan Bunuh Kami!
ProKontra, Magetan — Di atas hamparan lahan hijau yang seharusnya dijaga kelestariannya, bangunan raksasa berdiri tegak, nyaris tak tergoyahkan meski teguran telah datang. Pembangunan kandang ayam sistem Closed House milik pihak SK Magetan kini telah tembus lebih dari 60 persen, padahal percaya atau tidak izin resminya belum keluar satu lembar pun!
Dinas PUPR sudah menegur, namun bangunan terus naik, tiang terus berdiri, seolah teguran itu hanyalah angin lalu yang tak perlu dihiraukan. Apakah aturan main berbeda bagi yang bermodal besar? Teguran diabaikan, lahan hijau diinjak-injak, dan pemerintah diam saja menonton?
90.000 Ekor Ayam dalam Satu Napas Peternak Kecil Langsung Tersingkir
Angkanya mengerikan. Tiga kandang berkapasitas 30.000 ekor per unit, total 90.000 ekor ayam untuk tahap pertama, bahkan kabar terbaru menyebutkan rencananya melonjak hingga 200.000 ekor. Sistem otomatis impor dari Jerman canggih, cepat, efisien, dan mematikan bagi ribuan peternak kecil Magetan.
Ini bukan sekadar kandang. Ini mesin raksasa yang dirancang untuk menggilas perekonomian rakyat kecil. Produksi telur akan melimpah, harga pasti dijatuhkan, dan peternak gurem yang selama ini menopang pangan Magetan? Tinggal diam dan menunggu gulung tikar. Apalagi kabarnya pemilik kandang ini juga pengusaha pakan ternak memegang sumber pakan sekaligus menjadi pengecer telur. Pasar dikuasai dua tangan sekaligus. Di mana tempat peternak kecil berdiri?
“Timbang Pakan Tak Utangkan, Mending Pakai Sendiri” Niat Nyata Menghancurkan
Kata-kata pemilik kandang ini berputar di kalangan peternak bagai petir di siang bolong. “Timbang pakan tak utangne ternak cilik, mending tak gawe dewe.” Terang benderang niatnya! Bukan untuk bersama-sama maju, melainkan memutus urat nadi peternak kecil dengan menutup pasokan pakan lalu membanjiri pasar dengan produksi sendiri. Strategi yang rapi, kejam, dan mematikan.
Peternak kecil sudah pasrah menjadi penonton. Kandang besar tak butuh banyak tangan mesin menggantikan manusia. Pekerjaan tak bertambah, sebaliknya puluhan bahkan ratusan ekonomi keluarga akan runtuh dalam sekejap mata.
Lahan Hijau Dihancurkan, Teguran Diabaikan Dimana Penegakan Hukum?
Lindaslah lahan hijau, abaikan teguran Dinas PUPR, biarkan bangunan selesai lebih dulu baru urus izin belakangan. Inikah cara kerja di Magetan? Siapa kaya berkuasa, siapa miskin minggir? Pembangunan sudah 60% lebih, tak ada penghentian. Pemerintah seakan menutup mata, menunggu fait accompli sudah selesai baru diakui. Ini bukan kelalaian, ini pembiaran yang terencana!
Peternak Bersiap Turun ke Jalan Kalau Izin Keluar, Kami Lawan!
Obrolan hangat di antara peternak kecil Magetan kini berubah menjadi tekad membara. Mereka mulai bangkit dari kepasrahan.
“Kalo tidak ada pergerakan semua peternak menolak, ya angel mas kuwi wong bermodal dekekengane yo kuat lo.”
“Pumpong rong metu ijine, dang demo menolak loor!”
“Mumpung Magetan nembe panas, dados mboten saget disangoni dinas terkait’e!”
Mereka sadar, Bukan sekadar telur yang dipertaruhkan, melainkan masa depan keluarga mereka. Jika izin keluar dengan segala kelancaran, maka itu adalah tanda resmi pemerintah membunuh ekonomi rakyat kecil demi kepentingan segelintir orang kaya.
Teguran Keras untuk Pemerintah Magetan
Jangan tunggu sampai rakyat turun ke jalan baru bertindak! Hentikan pembangunan yang belum berizin itu sekarang juga! Lindungi lahan hijau! Dan yang terpenting jangan sampai izin itu keluar sebelum ada jaminan nyata bahwa peternak kecil tidak dihancurkan. Karena sekali pintu itu terbuka, tak ada yang bisa menutupnya lagi dan yang hancur bukan hanya telur, tapi kepercayaan rakyat pada pemerintah itu sendiri.
Peternak kecil Magetan bukan lawan kemajuan. Mereka hanya ingin tetap hidup. Dan hidup itu hak yang tak boleh digilas uang berapa pun besarnya.
“Majulah pembangunan, asal rakyat tak tertindas. Berkembanglah ekonomi, asal bukan rakyat kecil yang jadi tumbal.”













