ProKontra, Magetan – Angin segar berembus bagi para petani sayur di Kabupaten Magetan. Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan hasil pertanian lokal akan menjadi salah satu sumber utama pasokan bahan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Komitmen tersebut disampaikan oleh Nanik Sudaryati Deyang saat melakukan kunjungan kerja ke Magetan pada Senin (1/6). Dalam kunjungan tersebut, Nanik juga menyempatkan diri mengunjungi Pasar Plaosan dan membeli berbagai jenis sayuran yang dipasarkan langsung oleh petani lokal.
Menurut Nanik, kebutuhan bahan pangan untuk program MBG diperkirakan akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, hasil pertanian dari Magetan memiliki peluang besar untuk terserap, tidak hanya guna memenuhi kebutuhan dapur MBG di wilayah tersebut, tetapi juga untuk daerah lain di kawasan Madiun Raya.
“Pasar ini tidak hanya diambil oleh Magetan saja. Nanti juga diambil Kota Madiun, Ponorogo, dan daerah lainnya. Jadi petani di sini insya Allah akan diuntungkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa BGN telah menginstruksikan para koordinator wilayah agar memaksimalkan pemanfaatan hasil pertanian lokal, terutama ketika harga komoditas di pasaran mengalami penurunan signifikan. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga kestabilan harga sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan petani.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah pokcai. Ketika harga pokcai mengalami penurunan di tingkat petani, kebutuhan bahan pangan untuk dapur MBG dapat diarahkan untuk menyerap hasil panen tersebut dengan harga yang tetap mengikuti harga pasar.
“Kalau ada harga yang jatuh, itu nanti dipakai. Misalnya pokcai harganya turun, nanti bisa masuk menu MBG dan harus dibeli dengan harga pasar,”katanya.
Selama ini, petani sayuran di kawasan Plaosan sering menghadapi persoalan turunnya harga hasil panen saat produksi sedang melimpah. Nanik mencontohkan harga tomat dan wortel yang pernah anjlok hingga berada di kisaran Rp3.000 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut diharapkan dapat diminimalkan ketika program MBG berjalan secara optimal. Tingginya kebutuhan bahan baku dari dapur-dapur SPPG diyakini mampu menciptakan permintaan yang lebih stabil bagi hasil pertanian lokal.
“Sering harga tomat jatuh, wortel juga pernah Rp3.000. Tapi nanti harga tidak jatuh karena serapannya tinggi. Yang membeli bukan hanya dapur SPPG di Magetan, tetapi juga dari Madiun, Ponorogo, dan daerah lain,” jelasnya.
Melalui skema tersebut, BGN berharap manfaat program MBG tidak hanya dirasakan oleh para penerima makanan bergizi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan pendapatan petani serta pelaku usaha di pasar tradisional.
“Ini yang insya Allah akan memperbaiki kondisi, bukan hanya bagi pedagang, tetapi juga petani,” pungkasnya.













