ProKontra, TULANG BAWANG – Bratasena Adiwarna, Dente Teladas, Tulang Bawang — Di tengah perjuangan panjang masyarakat petambak untuk mengembalikan kejayaan budidaya udang, masyarakat Kampung Bratasena Adiwarna dan Bratasena Mandiri berkumpul di Masjid Al Falah untuk melaksanakan Istiqosah dan doa bersama, memohon pertolongan serta keberkahan dari Allah SWT.
Dengan penuh kesadaran mereka berswadaya, masyarakat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Bukan sekadar kegiatan keagamaan, Istiqosah ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mencurahkan harapan setelah bertahun-tahun menghadapi berbagai persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan dan perekonomian mereka.
Dari Infrastruktur Rusak hingga Petambak Terpuruk
Dalam sambutannya, Kepala Kampung Bratasena Adiwarna Subiyanto, menyampaikan bahwa perjalanan masyarakat petambak tidaklah mudah.
Kerusakan infrastruktur pada masa lalu, termasuk pintu-pintu air yang mengalami kerusakan, menyebabkan pengaturan pasang surut air tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut diperparah dengan abrasi di berbagai titik serta tanggul yang jebol.
Akibatnya, sistem tata air kawasan tambak mengalami kerusakan.
Pergerakan air kemudian membawa material lumpur ke dalam sistem perairan budidaya. Kondisi lingkungan perairan yang tidak stabil tersebut menjadi salah satu persoalan yang sangat dirasakan oleh para petambak.
Masyarakat harus menghadapi risiko budidaya yang tinggi. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru menjadi tantangan yang terus menghantui setiap siklus budidaya.
Petambak menebar benur dengan harapan mendapatkan hasil panen, tetapi tidak jarang harus menghadapi kegagalan dan kerugian.
Jerih payah berbulan-bulan dapat berakhir tanpa hasil yang sebanding.
Infrastruktur Mulai Dibenahi, Harapan Mulai Tumbuh
Meski demikian, masyarakat tidak menyerah. Berbagai upaya pembenahan infrastruktur telah dilakukan. Alhamdulillah, kondisi infrastruktur yang sebelumnya mengalami kerusakan kini sudah banyak yang dibenahi, sehingga harapan untuk memperbaiki sistem tata air dan menghidupkan kembali kegiatan budidaya mulai tumbuh.
Bagi masyarakat Bratasena, perbaikan infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik.
Di balik pintu air yang kembali berfungsi, tanggul yang diperbaiki dan saluran yang dibenahi, terdapat harapan ribuan masyarakat untuk kembali mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Masyarakat berharap kondisi lingkungan budidaya semakin membaik sehingga usaha tambak udang kembali produktif dan para petambak dapat kembali merasakan keberhasilan seperti masa kejayaan budidaya udang sebelumnya.
Harapan di Tengah Kekhawatiran Harga Udang
Namun, persoalan petambak belum sepenuhnya selesai.
Dalam sambutannya, Kepala Kampung juga menyampaikan adanya kekhawatiran masyarakat terkait kebijakan pemerintah mengenai impor udang yang beberapa waktu lalu dilakukan.
Menurutnya, ketika pasokan udang di pasar bertambah, secara ekonomi kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga apabila tidak diimbangi dengan pengaturan yang tepat.
Bagi petambak kecil, perubahan harga bukanlah persoalan sederhana.
Harga udang menentukan apakah hasil panen mampu menutup biaya benur, pakan, listrik, obat-obatan, tenaga kerja dan biaya operasional lainnya.
Ketika harga turun, sementara biaya produksi tetap tinggi, keuntungan petambak semakin tertekan. Bahkan dalam kondisi tertentu, hasil panen dapat berubah menjadi kerugian.
Karena itu, masyarakat berharap setiap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan komoditas udang dapat dikaji secara matang dengan mempertimbangkan kondisi petambak di lapangan.
Istiqosah: Mengadu Kepada Allah, Menguatkan Persaudaraan
Di tengah berbagai persoalan tersebut, masyarakat memilih untuk tidak hanya berjuang melalui usaha dan ikhtiar duniawi.
Malam itu mereka berkumpul di Masjid Al Falah, menundukkan kepala, memanjatkan doa dan memohon pertolongan Allah SWT.
Masyarakat Bratasena Adiwarna dan Bratasena Mandiri berharap agar Allah memberikan keberkahan kepada usaha mereka, memberikan kesehatan, keselamatan dan kelancaran dalam setiap kegiatan budidaya.
Mereka juga memohon agar kawasan tambak kembali menjadi sumber kehidupan yang mampu memberikan kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat.
“Mudah-mudahan melalui Istiqosah malam ini, Allah SWT memberikan jalan keluar, memberikan keberkahan kepada usaha masyarakat, sehingga petambak Bratasena Adiwarna kembali sukses dan sejahtera,” demikian harapan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Dari Masjid Al Falah, Sebuah Harapan Dipanjatkan
Istiqosah malam itu menjadi gambaran bahwa perjuangan masyarakat Bratasena belum berakhir.
Mereka telah melewati masa sulit akibat persoalan infrastruktur, tata air, abrasi, tanggul dan kondisi lingkungan budidaya. Kini, ketika berbagai infrastruktur mulai dibenahi, masyarakat kembali menatap masa depan dengan harapan baru.
Doa Masyarakat
Doa agar harga udang memberikan penghidupan yang layak.
Dan doa agar masyarakat petambak Bratasena Adiwarna dan Bratasena Mandiri dapat kembali menikmati hasil perjuangan mereka.
Karena bagi masyarakat Bratasena, tambak bukan sekadar tempat mencari nafkah. Tambak adalah kehidupan, sumber penghidupan keluarga, dan harapan untuk masa depan anak-anak mereka.
Semoga Allah SWT mengabulkan doa masyarakat Bratasena, memberikan keberkahan atas setiap ikhtiar, serta mengembalikan kejayaan budidaya udang dan kesejahteraan masyarakat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.













