Ilustrasi mungkin ini kenyataannyan yang terjadi
ProKontra, Magetan – Suara riuh yang mulai terdengar di ruang publik ternyata bukan cuma datang dari kalangan biasa. Lingkaran pembicaraan makin meluas, melibatkan nama-nama yang tak asing lagi pengacara kondang, mantan anggota dewan masa bakti silam, hingga para pegiat yang selama ini kerap menyuarakan kritik tajam.
Mereka saling lempar pandangan, saling sanggah, seolah-olah berdiri di garis yang saling bertentangan. Namun di tengah keriuhan itu muncul satu pertanyaan besar yang tak kunjung terjawab.
Sebenarnya arah tujuannya ke mana? Untuk siapa mereka bergerak? Kepentingan pribadi, kelompok tertentu, atau benar-benar untuk rakyat banyak?
Ada yang menegaskan lugas, “Beda kepala, beda pula isinya. Siapa bicara apa, dan atas nama siapa ia berbicara, itulah yang patut dicermati. Sisanya biarlah terlihat apa adanya.”
Pernyataan itu langsung disambut sindiran tajam yang menusuk tepat ke inti kecurigaan masyarakat.
“Jangan-jangan di atas meja saling bantah seolah tak sejalan, padahal di bawah meja tangan mereka sudah saling genggam erat. Seperti jajanan tradisional terlihat terpisah, padahal satu adonan yang sama. Permainan yang tampak berlawanan, belum tentu benar-benar bertentangan.”
Mantan wakil rakyat yang pernah duduk di kursi dewan turut menyoroti jalannya pertikaian ini, seolah menjadi saksi mata hidup bagaimana “bola panas” dilempar ke sana kemari hingga akhirnya mendarat di hadapan publik.
Suasana makin terasa seperti pertunjukan yang sudah disusun sedemikian rupa, ada yang melempar isu, ada yang merembukkan secara tertutup, ada yang memukul keras ke permukaan, dan ada pula yang berdiri di pinggir sambil tersenyum diam-diam seolah sudah tahu kelanjutan ceritanya.
Bahkan terdengar canda yang sarat makna pedas, “Yang berdebat sibuk memainkan peran, pejabat-pejabat di sana sibuk memantau sambil bingung antara tugas jabatan dan ikut tertawa melihat sandiwara ini. Ada yang sibuk mengurus urusan surat kuasa, ada yang sibuk menentukan siapa yang boleh tampil dan siapa yang harus menunggu giliran persis seperti makelar yang mengatur barang dagangan politik.”
Rakyat yang hanya berdiri menyimak dari pinggiran mulai bertanya-tanya dengan kian curiga.
Apakah semua kegaduhan ini cuma strategi halus untuk meloloskan kehendak kelompok tertentu? Apakah pertentangan yang tampak sengit ini cuma topeng belaka, agar seolah ada perdebatan yang adil, padahal keputusan akhir sudah disepakati jauh sebelumnya?
Kalau benar mereka saling bersekongkol di balik layar, maka semua kata-kata tajam, semua kritik yang terdengar meyakinkan, hanyalah alat untuk mengelabui mata rakyat.
Yang paling disayangkan, kalau tujuannya bukan untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat luas, melainkan sekadar menguntungkan kantong sendiri dan kawan-kawan dekat, maka segenap kegemparan ini tak lebih dari sekadar dagelan politik murahan.
Rakyat tak butuh pertunjukan yang bagus, rakyat butuh kejelasan yang nyata. Sampai kapan kita hanya disuguhi sandiwara yang arahnya entah dibawa ke mana?
Bukankah seharusnya setiap kata yang terucap, setiap langkah yang diambil, ujung pangkalnya kembali kepada satu hal, kepentingan rakyat yang sebenarnya? Jangan sampai rakyat cuma jadi penonton yang disuruh menonton tanpa pernah tahu isi cerita sesungguhnya.













