banner 728x250

Unesa 5 Ingin Minta Hibah di Pusat Kota, Yang Ada Masih 9 Hektar Selesaikan Dulu

Ilustrasi yang terjadi apa bila tetap minta di tengah kota

ProKonta, Magetan — Selalu saja ada yang berkeinginan segala sesuatu harus berpusat di kota. Di jantung kota yang ramai, strategis, dan terlihat megah dari jalan raya. Seolah-olah keberhasilan pembangunan hanya bisa diukur dari seberapa banyak gedung berdiri rapat di tengah kota. Seolah-olah daerah pinggiran, desa-desa, dan wilayah luar kota itu hanya tempat penyangga yang boleh terabaikan.

Padahal, adilkah demikian? Ketika segala perhatian, anggaran, dan fasilitas dipusatkan di satu titik yang sama, sementara wilayah lain yang tak kalah luas dan berpenduduk banyak justru dibiarkan tertinggal?

Ada yang ganjil dan patut dipertanyakan, mengapa begitu bersemangat membangun yang baru di tengah kota, padahal yang sudah ada di wilayah lain belum tuntas, belum dimanfaatkan sepenuhnya, bahkan ada yang terbengkalai begitu saja?

Ibarat membangun rumah, halaman belakang belum tertata, sebagian ruangan belum selesai dibangun, perabotan belum dimanfaatkan tetapi sudah terburu-buru ingin membangun paviliun baru di halaman depan yang lebih strategis dan terlihat orang lewat. Di mana akal sehatnya? Di mana pertanggungjawabannya?

Yang di luar kota itu bukan tanah kosong yang tak bernilai. Di sana ada rakyat. Ada warga yang berharap kemajuan merata, bukan hanya menumpuk di satu titik. Jika yang di luar kota belum dikelola dengan baik, belum dimanfaatkan secara maksimal, belum memberi manfaat nyata, apa jaminannya bahwa yang baru di kota nanti tidak akan bernasib sama? Megah di atas kertas, mangkrak di kenyataan?

Seringkali yang dikejar hanyalah kemegahan tampak luar. Berdiri di lokasi strategis, mudah dilihat siapa saja, memudahkan untuk berfoto dan berkata, “Lihat, inilah hasil kerja kami!” Padahal di dalamnya? Belum tentu terurus. Belum tentu memberi manfaat nyata. Bisa jadi hanya bangunan berdiri, lalu dibiarkan begitu saja menunggu waktu hingga rusak sendiri.

Janganlah pembangunan itu hanya demi terlihat bagus di mata yang lewat, tetapi lupa memberi manfaat bagi rakyat yang sebenarnya membutuhkan.

Rakyat tidak menolak pembangunan di kota. Rakyat hanya meminta satu hal yang sangat wajar.

Sebelum memusatkan yang baru di kota, pastikan yang sudah ada di luar kota sudah selesai, sudah berfungsi, sudah memberi manfaat nyata!

Jangan sampai yang jauh-jauh hari sudah dihibahkan, sudah disiapkan lahannya, justru diabaikan setengah jalan. Lalu minta yang baru lagi, di tempat yang lebih bergengsi. Itu bukan kemajuan. Itu namanya menyia-nyiakan kesempatan dan mengabaikan amanah rakyat.

Jika yang di luar kota sudah tertata rapi, sudah berjalan lancar, manfaatnya sudah dirasakan luas barulah berbicara tambahan. Saat itu tiba, rakyat pun akan mendukung dengan sukarela. Karena rakyat tahu, apa yang diberikan akan dijaga, dimanfaatkan, dan dipertanggungjawabkan dengan baik.

Kepada semua pihak yang berupaya memindahkan atau memusatkan segala sesuatu ke jantung kota, dengarkanlah suara rakyat:

Jangan terburu-buru! Lihatlah ke luar kota! Lihatlah apa yang sudah diterima namun belum diselesaikan!

Jika yang lama belum selesai, jangan minta yang baru. Jika yang jauh belum diperhatikan, jangan terburu-buru memadatkan yang dekat. Pembangunan harus merata, bukan menumpuk di satu titik. Amanah harus dijaga, bukan diabaikan lalu minta yang lain.

Ingatlah, yang di luar kota itu juga bagian dari Magetan. Yang di desa itu juga rakyat Magetan. Jangan biarkan mereka merasa hanya menjadi penonton kemajuan yang dinikmati segelintir orang di tengah kota saja.

Penulis: Lilik Abdi Kusuma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *