Kapolres Magetan yang mengawasi langsung pengamanan di lokasi tersebut menjelaskan bahwa langkah ini bukanlah untuk menghalangi hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, melainkan untuk memastikan bahwa setiap bentuk ekspresi dapat berjalan dengan aman dan damai
ProKontra, Magetan – Jalan raya yang menghubungkan Magetan dan Madiun di Desa Madigondo, Kecamatan Takeran, bukan lagi sekadar lorong penghubung dua wilayah pada Kamis (5/2/2026).
Di sinilah aparat kepolisian membentengi barisan keamanan dengan sentuhan manusiawi, menyekat pergerakan massa sebagai upaya cegah kerusuhan yang mungkin melanda antara beberapa perguruan pencak silat.
Suasana yang cukup tegang namun tetap terkendali menyelimuti titik perbatasan tersebut. Tidak ada nada intimidasi yang terpancar dari setiap gerakan petugas yang berjaga. Malahan, senyum hangat dan kata-kata ramah menjadi bahasa utama mereka saat melakukan pemantauan dan pemeriksaan kendaraan serta warga yang melintas. Semua dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, namun tidak pernah melupakan nilai-nilai humanis yang menjadi landasan tugas mereka.
Kegiatan penyekatan ini merupakan antisipasi terhadap rencana aksi unjuk rasa yang akan dilakukan oleh sebagian anggota perguruan pencak silat untuk menolak kegiatan tertentu yang dijadwalkan berlangsung di wilayah Kota Madiun. Tanpa tindakan preventif yang tepat, potensi bentrokan antar kelompok sangat mungkin terjadi, sebuah hal yang tentu saja akan merusak keharmonisan dan keamanan masyarakat yang telah terbangun dengan susah payah.
Kapolres Magetan yang mengawasi langsung pengamanan di lokasi tersebut menjelaskan bahwa langkah ini bukanlah untuk menghalangi hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, melainkan untuk memastikan bahwa setiap bentuk ekspresi dapat berjalan dengan aman dan damai. “Kita sangat menghargai semangat persatuan yang ada dalam dunia pencak silat – sebuah olahraga yang telah menjadi bagian dari budaya kita. Namun, kita juga harus bersama-sama menjaga agar semangat itu tidak berubah menjadi sumber konflik,” ujarnya dengan nada yang penuh empati.
Di tengah suasana yang cukup menyimpan ketegangan tersembunyi, terlihat bagaimana petugas polisi berinteraksi dengan setiap individu yang melalui titik pengamanan. Ada yang memberikan informasi mengenai kondisi jalan dan lokasi alternatif bagi mereka yang ingin menghindari kemacetan. Ada juga yang dengan sabar menjelaskan alasan adanya penyekatan kepada masyarakat yang merasa penasaran. Bahkan, beberapa petugas yang memiliki latar belakang pencak silat sendiri turut berkomunikasi dengan beberapa tokoh masyarakat untuk menjembatani pemahaman antara pihak-pihak yang terlibat.
Seorang pedagang kecil yang berjualan makanan di pinggir jalan dekat titik pengamanan, Bu Siti (52), mengakui bahwa awalnya ia merasa khawatir dengan adanya penyekatan massa. Namun, setelah melihat bagaimana cara kerja petugas polisi, ketakutannya perlahan sirna. “Saya dulu pernah melihat kerusuhan kecil antar kelompok, jadi ketika tahu akan ada penyekatan, saya khawatir bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Tapi ternyata polisi bekerja dengan sangat baik, mereka ramah dan tidak kasar sama sekali. Bahkan mereka juga mampir belanja makanan saya, kayak keluarga saja,” cerita Bu Siti sambil tersenyum hangat.
Di sisi lain, beberapa perwakilan dari perguruan pencak silat yang berencana melakukan aksi juga datang ke titik pengamanan untuk berkomunikasi dengan petugas. Mereka menyampaikan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk menyampaikan aspirasi dan tidak memiliki niat untuk menciptakan kerusuhan. Petugas pun dengan terbuka menerima keluhan mereka dan menjelaskan bahwa pihak kepolisian siap membantu memfasilitasi komunikasi dengan pihak terkait agar masalah dapat diselesaikan dengan cara yang damai dan konstruktif.
“Tidak ada yang ingin terjadi kerusuhan, terutama di dunia pencak silat yang selalu mengedepankan nilai-nilai kesetiaan dan persaudaraan. Kita hanya ingin suara kita didengar, dan kami sangat menghargai cara kerja polisi yang tidak memaksakan kekuasaan, melainkan mau berkomunikasi dengan kita,” ujar salah satu perwakilan perguruan pencak silat yang tidak ingin disebutkan namanya.
Titik pengamanan yang dipusatkan di jalur utama penghubung Magetan dan Madiun juga diatur dengan sangat cermat agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat secara berlebihan. Petugas memastikan bahwa aliran lalu lintas tetap dapat berjalan dengan lancar, hanya melakukan pemeriksaan secara selektif terhadap kendaraan yang dicurigai membawa massa dalam jumlah besar. Bagi kendaraan pribadi dan pengusaha yang melakukan aktivitas perdagangan, mereka diberi keleluasaan untuk melintas dengan cepat setelah melakukan pemeriksaan singkat.
Selain itu, pihak kepolisian juga bekerja sama dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan juga pengurus perguruan pencak silat di kedua wilayah untuk melakukan penyuluhan dan pemantauan. Mereka bersama-sama menyebarkan pesan penting tentang pentingnya menjaga persatuan dan menghindari segala bentuk konflik yang dapat merusak keharmonisan masyarakat. Beberapa pengurus perguruan pencak silat bahkan secara sukarela membantu memantau situasi di wilayah masing-masing dan memberikan informasi kepada pihak kepolisian jika ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magetan yang juga terlibat dalam upaya mencegah konflik menyampaikan bahwa dunia pencak silat memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter bangsa. “Pencak silat bukan hanya tentang teknik bertarung, tapi juga tentang etika dan moral yang tinggi. Kita harus menjaga agar nilai-nilai tersebut tetap terjaga dan tidak tercoreng oleh konflik yang tidak perlu. Saya sangat menghargai upaya polisi yang bekerja secara humanis untuk mencegah hal buruk terjadi,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, suasana di titik perbatasan mulai mereda. Masyarakat yang awalnya khawatir kembali melakukan aktivitas mereka seperti biasa, sementara pihak kepolisian tetap berjaga dengan penuh vigilansi namun tetap dengan sikap yang ramah dan terbuka. Rencana aksi unjuk rasa yang semula akan dilakukan akhirnya diubah menjadi bentuk dialog yang damai antara perwakilan perguruan pencak silat dengan pihak terkait, berkat upaya sinergis antara kepolisian dan berbagai elemen masyarakat.
“Kita selalu percaya bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang damai jika ada kemauan untuk berkomunikasi. Hari ini kita melihat bukti bahwa kerja sama antara masyarakat dan aparatur negara dapat menghasilkan hal yang baik. Semoga ini menjadi contoh bagi kita semua bahwa menjaga keamanan dan ketertiban tidak harus dengan kekerasan, tapi bisa dengan sentuhan humanis yang penuh rasa empati,” tutup Kapolres Magetan saat memberikan sambutan penutup pada akhir hari pengamanan.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan secara humanis dan penuh rasa tanggung jawab, aparat kepolisian berhasil mencegah potensi kerusuhan antar perguruan pencak silat dan menjaga keharmonisan masyarakat di perbatasan Magetan-Madiun. Semua ini membuktikan bahwa keamanan dan ketertiban dapat terwujud bukan hanya melalui kekuasaan, melainkan juga melalui penghargaan terhadap hak dan martabat setiap individu dalam masyarakat.













