Ilustrasi Catatan Hangat dari Grup NKRI
ProKontra, Magetan – Di grup yang penuh semangat ini, obrolan bermula dari istilah yang terdengar berat, tapi ternyata menyentuh hati keseharian kita: De-legitimasi Internal.
Pak Rudi Gosong membuka penjelasannya, Ini tahapan ketika sebuah pemerintahan, keraton, atau pemimpin mulai kehilangan pengakuan, kepercayaan, dan kepatuhan… bahkan dari orang-orang terdekatnya sendiri. Bukan karena serangan dari luar, tapi retak dari dalam : konflik, ketidakpuasan, dan hilangnya rasa percaya satu sama lain.
Sederhananya begitu, tambah Pak Sukamto : Pemimpin mulai tidak dipercaya oleh orang yang seharusnya mendukungnya.
Lalu Pak Jumali Anggara Putra bertanya lugas, Kalau situasi di DPRD Magetan sekarang, masuk ke sini nggak ya Pak?
Pak Rudi menjawab dengan perumpamaan yang mudah kita rasakan, itu seperti gejala tubuh yang tak beres. Kalau kepala sudah sering pusing, badan terasa tidak enak, itu tanda ada yang salah, bukan sekadar lelah biasa.
Kemudian kita diajak menengok ke masa lalu, ke masa Keraton Mataram di Plered di bawah Sultan Amangkurat I.
“Untuk membiayai kemegahan keraton, beliau mencabut hak para bupati mengurus pajak dan upeti, lalu diserahkan sepenuhnya ke pusat. Sementara itu, ikatan dengan VOC dipererat untuk mengunci siapa saja yang tidak sejalan,” jelas Pak Rudi.
Pak Sofandi langsung menyambung, wah, persis seperti yang terjadi sekarang ya. Bahkan sikap Sultan Amangkurat I yang penuh kecurigaan tanpa alasan jelas yang disebut sebagai paranoia sekarang sudah menjangkiti hampir kita semua.
Pak Sukamto meluruskan dengan bijak, istilah medis seperti paranoia memang belum ada di masa itu. Tapi perilaku yang sangat curiga, takut kehilangan jabatan, dan tidak percaya pada orang lain, “Memang terlihat nyata di masa pemerintahannya,”jelas Sukamto
Contoh sederhananya? Pak Sofandi bercerita, dulu kalau butuh bantuan uang, kita pinjam ke tetangga. Sekarang? Sudah hilang rasa percaya itu. Maka lembaga keuangan sejenis KSP menjamur, bahkan di sana pun sudah penuh syarat dan ketakutan. “Itu tanda hilangnya kepercayaan yang kita bahas tadi,”tandas Sopandi
Bahkan tak lepas dari sejarah Magetan sendiri. Dulu Magetan dikenal sebagai Monco Negoro, punya kewenangan dan kehebatan sendiri. Ada tokoh besar seperti Raden Kusumo, yang makamnya pun menyimpan banyak pelajaran.
“Sayangnya, banyak nilai luhur dan jejak tokoh hebat masa lalu yang kini kurang kita teladani. Ucapan yang baik, niat yang tulus, itu bisa memperjelas arah kita,” ujar Pak Sofandi.
Pak Rudi menambahkan satu hal yang membuat kita tertegun, saat Keraton Plered dan rakyat sedang kesulitan, justru di pusat keraton sibuk membangun istana mewah, menumpuk batu bata, membuat danau buatan. Seolah pejabat berkompetisi membangun kemegahan sendiri di tengah krisis.
“Lalu muncullah kalimat yang menjadi kunci obrolan kita, Magetan Kumandang, Yen Kabeh Podo Tumandang,” ucap Rudi.
Pak Sukamto memaknainya dengan indah, kemajuan tak cukup hanya dengan anggaran besar atau kebijakan cerdas. Harus ada gotong royong. Pemerintah, masyarakat, pengusaha, dan semua elemen bergerak bersama.
“Beri ruang suara rakyat, bangun kembali rasa percaya, dan biarkan partisipasi menjadi kekuatan. Kalau tidak, visi besar hanya akan menjadi lamunan yang tak pernah terwujud,”ujar Sukamto
Penutupnya, kata Pak Sofandi, tugas pemimpin atau pengelola itu ibarat nakhoda. “Bukan mendayung sendiri, tapi membuat semua orang bersatu memegang dayung, agar kapal kita selamat menyeberangi ombak yang besar,”pungkas Sopandi
Ringkasan cerita begitulah obrolan di grup ini : mengupas sejarah, melihat kenyataan, dan kembali menemukan kunci kemajuan yang sederhana : Saling percaya, bergerak bersama, dan tidak melupakan akar













