banner 728x250

Pemkab Ponorogo Optimistis Grebeg Suro 2026 Mampu Dongkrak Perekonomian Daerah

ProKontra, Magetan – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo memastikan pelaksanaan Grebeg Suro 2026 akan tetap berlangsung semarak. Meski alokasi anggaran dari APBD tidak mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, yakni tetap sebesar Rp500 juta, agenda budaya terbesar di Bumi Reog itu diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Rangkaian kegiatan Grebeg Suro 2026 dijadwalkan resmi dibuka pada 6 Juni mendatang di Alun-Alun Ponorogo.

Event budaya tahunan yang masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata tersebut saat ini telah memasuki tahap akhir persiapan.

Berbagai sarana pendukung, termasuk pembangunan panggung utama di Alun-Alun Ponorogo, mulai disiapkan menjelang pembukaan acara yang tinggal beberapa hari lagi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo, Agus Sugiarto, mengatakan seluruh persiapan terus dimaksimalkan dalam satu pekan terakhir. Pada penyelenggaraan tahun ini, Pemkab berupaya menghadirkan nuansa baru dengan melibatkan event organizer (EO) lokal.

“Kami bekerja sama dengan EO lokal agar tampilan penyelenggaraan tahun ini berbeda dari sebelumnya,” ujar Agus Sugiarto yang akrab disapa Ugin, Kamis (4/6).

Salah satu agenda yang diperkirakan menjadi daya tarik utama wisatawan adalah Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke-31 dan Festival Reog Remaja (FRR) ke-22. Kedua ajang tersebut akan diikuti oleh 31 grup reog yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Festival Reog Remaja dijadwalkan berlangsung pada 7 hingga 10 Juni 2026. Sementara itu, Festival Nasional Reog Ponorogo akan digelar pada 11 hingga 14 Juni 2026. Adapun malam penutupan sekaligus pengumuman para pemenang kedua festival tersebut akan dilaksanakan pada 15 Juni mendatang.

Selain agenda utama tersebut, Grebeg Suro tahun ini juga akan dimeriahkan oleh sedikitnya 28 kegiatan pendukung yang berlangsung sepanjang bulan Juni. Beragam acara budaya, hiburan, hingga wisata diharapkan mampu menarik ribuan wisatawan untuk berkunjung ke Ponorogo.

Ugin menjelaskan bahwa anggaran Rp500 juta yang dialokasikan melalui APBD hanya berfungsi sebagai dana pemicu atau stimulan.

Sementara kebutuhan pendanaan lainnya akan diperoleh melalui dukungan sponsor sebagaimana yang dilakukan pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Melalui dukungan tersebut, Pemkab berharap dampak ekonomi yang tercipta dapat jauh melampaui nilai anggaran yang telah dikeluarkan.

“Kami berharap UMKM bergerak, para pelaku ekonomi kreatif berkembang, penjualan jajanan meningkat, sektor perhotelan ramai, hingga usaha kuliner dapat mengalami peningkatan pendapatan,” katanya.

Pemerintah daerah juga menargetkan adanya kenaikan PAD seiring meningkatnya aktivitas ekonomi selama pelaksanaan Grebeg Suro. Potensi pendapatan diperkirakan berasal dari sektor retribusi, parkir, perdagangan, serta berbagai transaksi ekonomi yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha.

Selain FNRP dan FRR, sejumlah agenda tradisional yang selama ini menjadi ciri khas Grebeg Suro tetap akan digelar. Di antaranya larungan di Telaga Ngebel, kirab pusaka, serta berbagai kegiatan budaya lainnya yang telah menjadi daya tarik wisata tahunan.

“Nanti juga ada larungan di Ngebel, kirab pusaka, dan banyak agenda lainnya, termasuk beberapa kegiatan baru yang menarik,” pungkas Ugin.

Dengan puluhan rangkaian kegiatan yang berlangsung selama satu bulan penuh, Grebeg Suro 2026 diharapkan kembali menjadi pengungkit sektor pariwisata sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Ponorogo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *