ProKontra, Magetan – Perjalanan panjang selama 15 tahun menulis karya berbahasa Jawa akhirnya berbuah manis bagi Supriyoko, guru Bahasa Jawa di SMPN 1 Parang, Kabupaten Magetan.
Ia menerima Anugerah Sutasoma 2025 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya membina dan mengembangkan sastra daerah di Jawa Timur.
Penghargaan tersebut tertuang dalam keputusan bernomor 2116/5.8/BS.01.01/2025 tertanggal 12 September 2025. Supriyoko pun mencatat sejarah sebagai penerima pertama Anugerah Sutasoma dari Kabupaten Magetan.
“Seingat saya untuk Anugerah Sutasoma di Kabupaten Magetan adalah saya yang pertama kali. Bukan berarti saya sombong, tetapi Anugerah Sutasoma ini untuk Kabupaten Magetan utamanya pada hari ini berkaitan dengan peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2025,” ujar Supriyoko, Selasa (04/10/2025).
Supriyoko menuturkan, perjalanannya di dunia literasi dimulai sejak tahun 2010. Ia mengaku menemukan ruang ekspresi lewat menulis karya sastra berbahasa Jawa.
“Saya sebagai guru Bahasa Jawa yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya mau tidak mau harus menemukan ruang kosong. Nah apa yang saya temukan? Terkait obahe driji (gerakan tangan, red), menulis, menulis, dan menulis, meskipun panjang sekali perjalanannya. Kita menulis, belajar, saya tanya dari teman-teman, adik kelas, dari siapapun saya belajar untuk membuat tulisan hingga akhirnya bisa menghasilkan beberapa buku berbahasa Jawa,” ungkapnya.
Dari semangat itulah lahir beberapa buku berbahasa Jawa yang ia hasilkan secara mandiri. Bersama rekan-rekan di MGMP Bahasa Jawa Magetan, Supriyoko juga ikut membuat buku paket pembelajaran menyesuaikan perkembangan kurikulum.
“Dulu saat KTSP dan Kurikulum 2013, kami membuat buku paket sendiri. Untuk Kurikulum Merdeka ini, kami masih menunggu arahan lebih lanjut, tapi kalau diminta membuat buku paket Bahasa Daerah, kami siap,” katanya.
Meski penuh semangat, ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap jumlah guru Bahasa Jawa di Magetan yang kian berkurang.
“Guru Bahasa Jawa di Magetan tidak sampai 100, rata-rata satu sekolah satu orang guru. Bahkan saat ini ada satu sekolah yang tidak ada Bahasa Daerah atau Bahasa Jawa karena sudah pada purna. Tinggal generasi penerus, tapi jumlahnya tidak cukup memenuhi jumlah sekolah di Magetan,” katanya.
Meski begitu, ia menegaskan pentingnya menjaga kelestarian budaya dan sastra Jawa. “Kita sebagai suku bangsa Jawa, siapa lagi yang akan menjaga kalau bukan kita? Itu pesan Bupati Suprawoto waktu itu. Kita sebagai orang Jawa harus mati-matian menjaga hidupnya Bahasa Jawa, budaya Jawa, sastra Jawa, dan semuanya yang berkaitan dengan Jawa,” tambahnya.
Menutup pesannya di momentum Hari Guru Nasional 2025, Supriyoko mengajak para pendidik untuk terus berkarya tanpa pamrih.
“Kita kerja kerja kerja, kita berkarya berkarya berkarya, tidak usah mengharap hasilnya apa. Nanti Tuhan yang membalas semua kebaikan kita. Guru-guru yang hebat, akhirnya Indonesia pasti kuat dan jadilah insan yang berguna (jibegru),” tutupnya.













